PENDERITAAN MENDAHULUI KEMULIAAN

PENDERITAAN MENDAHULUI KEMULIAAN
PENDERITAAN MENDAHULUI KEMULIAAN

 

Menjelang perayaan paskah yaitu perayaan memperingati pembebasan Umat Israel dari perbudakan Bangsa Mesir, Yesus memasuki kota Yerusalem. Ia disambut dengan meriah dan dielu-elukan oleh orang banyak sambil berseru-seru “Hosana ! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan Raja Israel”. Mereka berharap Yesus akan menjadi raja, pemimpin mereka, namun di sisi lain orang Farisi justru sedang gusar karena semakin hari pengikut mereka makin berkurang karena beralih kepada Yesus seperti yang mereka katakan di ayat 19. Orang banyak yang mengikut Yesus dan mengelu-elukannya pada dasarnya belum memahami apa misi Yesus yang sesungguhnya. KedatanganNya bukanlah sebagai raja secara politik tetapi dia datang untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan akibat dosa. Dari misi penyelamatan itu Ia kerjakan melalui jalan salib. Hal itulah yang Yesus sampaikan dalm perikop ini.

                Diantara orang banyak itu ada juga hadir orang-orang Yunani dan mereka ingin bertemu Yesus. Mereka kemudian diantar oleh Filipus dan Andreas untuk bertemu Yesus. Ternyata pelayanan Yesus tidak hanya berpengaruh bagi bangsaNya, Israel, tetapi juga bagi orang-orang Yunani. Segera setelah mendengar bahwa orang Yunani ingin bertemu dengan Dia, Yesus pun tahu bahwa wakktunya untuk dimuliakan telah tiba (ayat 23). Hal ini bagi Yesus menunjuk kepada kematianNya sebagai kemuliaanNya, sedangkan bagi bagi pengikut-pengikutNya merupakan penghinaan.

                Untuk menjelaskan pola pikir salib bukan penghinaan tetapi kemuliaan ,maka Yesus menegaskan seperti gandum yang tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Harus ada penderitaan sebelum ada kemuliaan. Biji itu memiliki hidup di dalamnya dan membawa hidup itu bersamanya melalui kematian. Kematian yang dialami biji itu adalah untuk kepentingan hidup itu sendiri. Begitu pula Yesus, bahwa kematianNya di kayu salib akan menyelamatkan/menghasilkan/membawa banyak orang kepada kehidupan.

                Kemudian Yesus memberikan peringatan “Barang siapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Kata nyawa di sini maksudnya hidup. Mencintai hidup artinya orang yang terlalu mementingkan hidupnya sendiri sehingga tidak akan mengalami hidup yang kekal. Sedangkan membenci sendiri merupakan sikap yang menilai hal-hal sorgawi lebih penting dari hal-hal duniawi. Mengikut Yesus ada syaratnya dan ada upahnya. Syaratnya adalah selalu bersama-sama dengan Yesus dimanapun Dia berada dan meneladani hidupNya. Upahnya adalah Bapa menghormati Dia (ayat 26).

                Salib adalah yang jalan yang harus dilalui Yesus untuk mewujudkan misi penyelamatan. Yesuspun terharu ketika menyadari saat kematianNya sudah dekat. Dalam ucapanNya tersirat kegundahan hati, namun kegundahan itu segera Ia tepis sebab untuk menjalani kematian itulah Dia datang. Sikap Yesus itu disambut dengan suara dari surga (ayat 28). Suara itu menyatakan pembenaran ilahi atas pilihan Yesus. Suara itu merupakan pernyataan sorgawi untuk mereka yang berada disitu.

                Peristiwa penyaliban itu adalah penghakiman atas dunia ini. Mereka yang menolak Dia menempatkan diri di pihak penguasa dunia ini dan akan dienyahkan bila Yesus diangkat pada salib dan dalam kebangkitan. Namun Yesus berjanji untuk menarik semua orang datang kepadaNya yaitu yang mengaku kesalahan dan memohon ampun serta berjalan di jalan Yesus. Tuhan Yesus memberkati...

 

Oleh : Gr. J. Saroniatman Gea