JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN

JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN
JANGAN MENJADI BATU SANDUNGAN

      Setiap manusia memiliki pengetahuan baik secara garis keturunan maupun melalui pendidikan di bangku sekolah sampai perguruan tinggi. Pengetahun yang kita miliki pasti berbeda. Memahami sesuatu juga tentu tidak serta merta tetap searah apalagi sepaham. Lalu, apa yang kita lakukan ketika (mungkin menurut kita) pengetahuan yang kita memiliki lebih dari pengetahuan orang lain? Apalagi kalau pengetahuan itu berhubungan dengan iman percaya kepada Tuhan yang kita sembah.

Dalam renungan kita hari ini, sepertinya kita mendapat kritikan yang pedas tentang “pengetahuan” yang kita miliki. Paulus menegaskan pada ayat 1c, bahwa pengetahuan itu menjadikan orang sombong. Bahkan di ayat 2 dikatakan kalau seseorang “menyangka” bahwa ia mempunyai sesuatu pengetahuan, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

Pernyataan Paulus ini merupakan jawaban akan kondisi yang sedang bergejolak di tengah-tengah umat Kristen di Jemaat Korintus. Permasalahan yang sedang terjadi sehubungan dengan daging persembahan berhala. Perlu kita ketahui bahwa kota Korintus merupakan daerah metropolitan yang sudah berkembang dari pengetahuan, filsafat dan juga perkembangan agama sehingga banyak ditemukan kuil-kuil tempat melaksanakan ritual keagamaan. Di kuil-kuil itulah orang-orang mempersembahkan makanan kepada dewa-dewi baik berupa daging, buah-buahan dan jenis makanan lainnya. Namun, kemudian makanan yang dipersembahkan tersebut dijual kembali oleh petugas kuil dengan harga yang murah di pasar-pasar umum sehingga sebagian besar masyarakat yang ekonomi lemah membeli makanan tersebut untuk dikonsumsi, termasuk orang Kristen.

Keadaan ini telah mendapat sorotan bagi kalangan kekristenan saat itu. Apakah makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala itu tidak menjadi dosa jika dikonsumsi oleh orang-orang yang telah menerima Yesus Kristus?

Sebagian orang Kristen yang telah memiliki pengetahuan menjawab bahwa tidak masalah, karena tidak ada berhala sehingga bebas memakan apa saja. Paulus juga menjelaskan bahwa tidak ada allah lain selain Allah, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai pengetahuan tentang itu (4-7). Jadi jangan dipergunakan pengetahuan tersebut untuk mengucilkan orang lain atau membuat iman seseorang menjadi goncang.

Memang, makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Tetapi, jagalah supaya pengetahuan kita tentang makanan itu tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hendaklah kita berhikmat dalam memakai apa saja tanpa menjadikan iman orang lain hancur (8-12). Sebagai orang Kristen sejati, pergunakanlah kasih dalam menghadapi masalah yang berhubungan dengan apa saja termasuk masalah makanan (1d). Jangan hanya gara-gara makanan – yang merupakan masalah kecil – menjadi perselisihan di antara kita sebagai umat Tuhan sehingga persekutuan kita menjadi rusak. Pengetahuan yang kita miliki hendaknya menjadi sarana untuk mengasihi orang lain dan menjadi kemuliaan nama Tuhan. Bahkan Paulus dalam ayat 13 mengatakan, kalau memang makanan itu menjadi batu sandungan bagi orang lain, aku tidak mau memakannya untuk selama-lamanya. Dalam ayat ini semakin jelas menegaskan bahwa sebagai umat Kristiani seharusnya menghargai orang lain dalam hal pemahaman yang berbeda tentang makanan. Walaupun menurut pengetahuan yang kita miliki, setiap makanan itu halal dan tidak ada yang haram, tetapi jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kalau orang lain masih belum menerima pemahaman bahwa segala makanan itu halal, jangan memaksakan diri.

Ketika pengetahuan kita semakin bertambah, sebaiknya kita hidup sebagaimana falsfah padi : kian berisi kian menunduk. Artinya, semakin banyak pengetahuan yang kita miliki biarlah kita semakin rendah hati dan menghargai orang lain. Jadilah seorang Kristen sejati yang tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain tetapi menjadi saluran berkat. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Tuhan Yesus Memberkati.

Oleh : Pdt. Agus Salam Harefa, S.Th