KITA ADALAH GARAM DAN TERANG DUNIA (Matius 5 : 13 - 20) Pdt. Oklisman Gulö, S.Th.M.Min

KITA ADALAH GARAM DAN TERANG DUNIA (Matius 5 : 13 - 20) Pdt. Oklisman Gulö, S.Th.M.Min
KITA ADALAH GARAM DAN TERANG DUNIA    (Matius 5 : 13 - 20) Pdt. Oklisman Gulö, S.Th.M.Min

Saudara/i  yang terkasih dalam Tuhan….

              Setiap kita yang telah membaca Alkitab pasti tidak lupa apa yang disebut Khotbah Yesus di Bukit (Nias: Huhuo Yesu ba Hili), Amin?? Khotbah Yesus tersebut ditulis oleh Matius yang  terperinci dalam 3 pasal, yakni pasal 5-7. Sang penulis kitab menunjukkan bagaimana Yesus memperdalam tuntutan Allah dari setiap orang percaya, yang hanya dapat dilaksanakan dengan kuasa kasih yang ada dalam hidup orang tersebut. Khotbah ini sering disebut ‘didache’ (artinya pendidikan moral), yang akan dijadikan ‘kerigma’ (artinya pengakuan pribadi) setiap orang percaya sepanjang hidupnya. Salah satu bagian dari khotbah Yesus kepada murid-murid dan orang banyak tersebut ialah ajaran tentang ‘Garam dan Terang dunia’.

Garam sangat berguna untuk dijadikan sebagai penyedap rasa, pengawet makanan bahkan kadang-kadang dijadikan obat. Orang Yahudi memahami arti ‘garam’ tidak sebatas kaitan dengan makanan, tapi garam berarti ‘hikmat, perkataan yang bijak.  Ketika Yesus mengatakan kamu adalah ‘garam dunia’ berarti setiap murid atau orang percaya mesti memiliki hikmat atau perkataan yang bijaksana dimanapun dia berada di dunia ini. Hal ini sangat sesuai dengan perkataan Firman Tuhan yang disampaikan oleh Paulus dalam Kolose 4:6 yang berbunyi: “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, JANGAN HAMBAR, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang”. Jangan  hambar berarti harus ada garam; harus ada hikmat. Kata-kata yang membawa berkat bagi yang lain; Fehede nilau asio.Setiap orang percaya kepada Yesus bukan hanya bersedia digarami tapi siap menggarami dimanapun ia berada, Amin???

Lampu sangat dibutuhkan pada zaman dulu di Timur Tengah, sebab setiap kamar karena cuaca yang tidak menentu dibuat tertutup, sehingga baik siang atau malam sangat dibutuhkan lampu penerang. Tidak mungkin diletakkan dibawah ranjang, harus diletakkan di atas sampai ruangan diteranginya. Terang sangat penting dalam kehidupan keseharian. Orang Yahudi memahami terang tidak sebatas kaitan dengan ruangan, tapi orang Israel a sendiri dalah terang bagi bangsa-bangsa, bait Allah adalah terang dunia bahkan Allah  adalah Sang Terang itu sendiri. Menjadi terang dunia berarti membawa PERUBAHAN pada hidup orang lain  kearah positif. Pemahaman ini juga sesuai dengan ajaran Paulus bahwa setiap orang percaya adalah terang yang hadir sebagai penuntun orang yang ada dalam kegelapan dosa, pendidik orang yang tidak tahu apa-apa, dan pengajar orang yang belum dewasa dalam iman (lih Rom 2:19-20). Dalam Efesus 5:8-9 dijelaskan bahwa kita orang percaya disebut sebagai terang di dalam Tuhan yang hidup menurut cara hidup anak-anak terang yang berbuahkan  kebajikan, keadilan dan kebenaran (band. Filipi 2:15). Mana terangmu? Tetap bersinar/menyala? Sudah mulai redup/remang? Atau malah sudah padam? Orang percaya Yesus seperti terang yang sedang bersinar bagi dunia sekitar, Amin???

Akhirnya Yesus menjelaskan bahwa dirinya datang untuk menggenapi seluruh isi kitab suci dan bukan meniadakan atau mempertentangkan. Setiap orang percaya harus hidup melebihi Ahli Taurat dan Orang Farisi supaya hidupnya tidak sia-sia. Ahli Taurat teliti mengajar Taurat, orang Farisi teliti melakukan Taurat untuk dirinya sendiri. Kita harus lebih dari mereka, yakni mengajarkan dan melakukan ajaran Yesus bukan hanya untuk diri kita sendiri di hadapan Allah, tetapi untuk orang lain yang ada di hadapan Allah. Masuk ke dalam kerajaan Sorga bergantung pada hubungan yang baru dengan Allah yang diperlihatkan dalam kehidupan dan ajaran yang baru, yakni hidup yang sedang menjadi garam dan terang bagi dunia. Sudahkah kita menjadi garam, terang  bagi keluarga, persekutuan dan dunia sekitar? Orang percaya: iman dan perbuatannya mesti melebihi Ahli Taurat dan Orang Farisi, AMIN