Menang Atas Pencobaan (Matius 4 : 1-11)

Menang Atas Pencobaan (Matius 4 : 1-11)
Menang Atas Pencobaan (Matius 4 : 1-11)

Menang Atas Pencobaan

(Matius 4 : 1-11)

Pencobaan kelihatannya selalu ada di sepanjang perjalanan sejarah kehidupan manusia di bumi. Pasti itu ada gunanya. Salah satunya ialah menguji atau memperkuat iman kita. Pencobaan itu selalu mencari celah untuk mengalahkan manusia. Ada banyak yang sudah menang atasnya, namun tidak dapat dipungkiri ada pula yang jatuh kalah oleh rayuannya. Pencobaan berasal dari si jahat, dengan berbagai cara dan bentuk tawaran yang menggiurkan. Tujuannya hanya satu yakni memisahkan manusia dari Allah untuk menuruti kehendaknya.

Peristiwa Yesus dicobai di padang gurun telah diketahui secara umum oleh orang percaya. Singkat cerita Yesus dicobai oleh Iblis dengan berbagai cara, tetapi pada akhirnya Yesus selalu menang. Jika dihubungkan dengan kehidupan Israel, maka peistiawa ini tidak dapat disangkal pengertiannya berhubungan dengan kehidupan Israel ketika keluar dari Mesir dan menjalani  perjalanan di padang gurun. Mereka berjalan di jalan yang penuh cobaan dan tantangan selama kurang lebih 40 tahun. Mereka selalu gagal menghadapi pencobaan itu dan bahkan mengecewakan Allah (band 1 Kor 10:1-13). Jika dikaitkan dengan pencobaan terhadap Adam dan hawa (Kej.3), yang membuat mereka jatuh adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (lih 1 Yoh 2:16). Demikian juga Yesus hendak dijatuhkan oleh pencobaan yang sama setelah ia berjalan dan berpuasa selama 40 hari di padang gurun pula, ia dicobai hampir dengan motif yang sama seperti itu. Pencobaan-pencobaan ini secara umum merupakan pencobaan biasa yang harus dihadapi oleh setiap manusia di dunia ini. Perbedaan kita ialah bahwa Tuhan Yesus dengan sempurna dapat melewati pencobaan itu.

Dua hal yang perlu mendapat atau menarik  perhatian kita ialah soal jenis pencobaan dan cara Yesus sendiri menghadapinya.

1.Jenis pencobaan Yesus

Pintu masuk cobaan yang pertama ialah bahwa Yesus lapar. Keadaan kelaparan ini menunjuk kepada sungut-sungut orang Israel akan kelaparan yang pada akhirnya Allah menjawab lewat pemberian manna. Orang pasti jatuh karena perkara perut. Artinya kelemahan kita tentang ini dapat menjadi pintu bagi pencobaan menjatuhkan kita. Ini berhubungan dengan pencobaan lewat keinginan daging sebagai manusia.

Pintu masuk yang kedua ialah Yesus di atas bubungan. Ajakan untuk menjatuhkah diri dan kemudian ada Malaikat yang menatang, berisi tentang sikap meminta tanda tanda mukjizat dari Allah sama seperti orang Israel yang selalu meminta tanda mukjizat dari Allah juga. Tujuannya ialah untuk memuaskan perasaan dan menenangkan hati dengan keyakinan instan. Artinya mata hati manusia yang tidak puas dengan cara kerja Allah dapat dipakai oleh si Iblis merusak hubungan kita dengan Tuhan sebab iman tidak dibangun melalui pengenalan Allah secara sempurna.

Pintu masuk terakhir ialah Yesus dibawa di atas pegunungan. Ada tawaran memiliki seluruh dunia dan menikmati kemegahannya. Ini berarti keinginan mata dan kepuasan pikiran karena penglihatan seluruh dunia dipikat oleh kemegahan itu. Ingin memiliki segalanya dan pada akhirnya melupakan Tuhan.

2.Cara Yesus menghadapinya

Yesus barusan ‘dilantik’ lewat pembaptisan di sungai Yordan dan diberi kuasa, Roh Tuhan yang selalu memimpin perjalananNya. Ia selalu menghadapi kuasa godaan dengan senjata ‘pedang Roh’ yaitu Firman Allah. Firman itulah yang menjadi ‘pertahanan’ sekaligus ‘penyerangan’. Yang mengherankan ialah si iblis mengutip Firman, namun kelihatannya digunakan dan diartikan tidak tepat (ikutilah adegan pembicaraan). Salah satu sifat iblis ialah menyamar (Nias: mamaedogo), biang keladi (Nias: bӧrӧ horӧ) atau licik (Nias: fekoro). Lihat betapa cepat jatuhnya seseorang kalau tidak kuat di dalam Tuhan dan hidup di dalam FirmanNya.

Jika dibahasakan sendiri, maka ada tiga kategori manusia yang berpeluang jatuh dalam pencobaan: 1) manusia ‘perut’ yakni orang-orang yang jatuh dalam pencobaan karena keinginan daging. 2) manusia ‘dada’ yakni orang-orang yang jatuh oleh karena kepercayaan yang instan atau keyakinan sesaat, mencobai Tuhan dan akhirnya menghujat/murtad. 3) manusia ‘kepala’yakni orang-orang yang jatuh karena keinginan mata dan pikiran mengingini kemegahan duniawi

Firman Tuhan ini menegaskan bahwa kita mesti yakin bahwa kalau kita ada di dalam Tuhan dan hidup di dalam Firmannya, apapun cobaan yang yang datang kita pasti menang. Pencobaan (baca: iblis) itu hanya provokator dari luar, kitalah eksekutornya. Jadi kita penentuannya apakah menang atau justru KO. Menang tipis atau menang tebal sama saja, yang penting kita berjuang, bertahan dan akhirnya harus menang atas rayuan si penggoda itu. AMIN

(Oleh : Pdt. Oklisman Gulö, S.Th, M.Min)